zarathushtra

Ada yang pernah denger kata di atas?

Zarathushtra adalah nama salah satu agama pemuja api yang sempat hidup di Persia. Saat ini gue sendiri kurang yakin whether the religion still does exist or not, yang pasti ada sebuah kalimat bagus yang baru gue baca 2 hari yang lalu.

Jadi, waktu orang-orang Persia dijajah (sama entah siapa, kemampuan gue masih sangat tipis on this topic), para penganut agama Zarathushtra ini ceritanya kabur ke India.

Di India, Sjah negeri padat tersebut menolak untuk menerima kelompok Zarathushtra masuk dengan alasan kondisi India yang sudah luar biasa crowded. Belum lagi, sang raja khawatir kalau mereka akan mencoba menyebarkan agama itu.

Kemudian, karena keterbatasan bahasa, sang raja mencoba berkomunikasi dengan isyarat.

Diambilnya sebuah gelas, kemudian diisinya gelas tersebut dengan susu sampai penuh. Maksudnya, gelas melambangkan negeri India dan susu diandaikan sebagai penduduk. Sudah tidak ada tempat untuk orang baru.

Namun, pemimpin kaum Zarathushtra tidak kemudian menyerah. Dia mengambil sejumput gula dan memasukkannya ke dalam gelas. Kalian tahu apa yang dia bilang?

“Di dalam gelas ini kami akan seperti gula. Kami berjanji kalian tidak akan melihat kami, tapi kami akan mempermanis kehidupan kalian.”

Man, that’s just sweet :)

Published in:  on September 16, 2009 at 11:57 Comments (6)

agustos

Saat ini gue mencoba mengetik dengan sistem non-stop. Artinya, ketikan saya—atau apa yang saya ketikkan—tidak mengalami pengeditan ulang alias pure mengalir. Kecuali ada salah-salah ketik dikit (kayak “ketik” jadi “ketuk”), gue nggak mem-backspace satu kata pun.

Oke, kita mulai dengan perubahan diri gue.

Alkisah, setelah 1 bulan penuh vakum dari menulis dan tetek bengek-nya, saya sudah menjadi manusia baru. Segala jenis ospek di UI, mulai dari OKK (tingkat universitas) sampai TKHI (tingkat jurusan) telah dan sedang saya jalani.

Sepanjang aspal bertuliskan “jalur menuju mahasiswa yang sebenar-benarnya” itu, saya telah mengalami beberapa peristiwa:

• Masuk ke rumah Mbah Surip untuk menawarkan jasa mobil jenazah dan resign SATU HARI SEBELUM TANGGAL GAJIAN; gue nggak tau itu apa namanya kalo bukan extra begok

• Telat di 3 dari 5 hari OBM (Orientasi Belajar Mahasiswa) dan dicap sebagai “Afu tukang telat yang bikin kelas rame” gara-gara itu; pembelaan saya: INI SEMUA SALAH KERETA!

• Kembali menghitamkan kulit yang sudah (agak) putih dengan menjadi Pasukan Pengibar Bendera UI di hari keramat 17 Agustus 2009; dan sebagai imbalannya mendapat kaos-emblem-jaket GERATIS dan kesempatan sekali seumur hidup makan di kantin mewah Rektorat

• Kalah (tipis) saat pencalonan Ketua Angkatan FISIP 2009 dari seorang cowok yang bernama Arbie Haman, dan sekarang mengakui kalau dia mungkin memang ebih pantas

• LUAR BIASA KESAL dengan kebegokannya nggak bisa nginget nama orang dan SANGAT MERASA BERSALAH waktu disapa orang dengan “Afu..” dan hanya bisa menjawab “Eh, hai!” dengan kening ngerut tanda setengah mati berusaha nginget nama si penyapa

• Bokek parah dengan uang tersedot ongkos (baca: ojek-angkot-kereta api) Pesona Khayangan-UI atau lebih parah Depok-Bogor; belum termasuk uang ngebayarin perut keroncongan biar diem 3 kali sehari

• Menjadi Ketua Angkatan Jurusan HI 2009 selama 3 menit dan dicopot dari jabatan dengan alasan gender

• Dibilangin “Jangan sok eksis deh lo!” sama seorang kakak kelas pada acara PSAF (ospek fakultas), padahal kakaknya yang minta dijawab

• Kenalan sama Hitler dan Mussolini sambil nunggu kereta nyampe Bogor (yang ternyata psikopat parah)

• Setengah mati ngebuka Kamus Inggris-Indonesia Hassan Sadily waktu ngebaca novel “The Host” karya Stephanie Meyer; sadar kalo ternyata vocab saya sudah menguap di udara selama liburan

• Ketawa ngakak kalo deket-deket Darang-Richard—Darang dengan segala “Sandra stuff” dan mitologi Yunani-nya, Richard dengan “Tibum wannabe”-nya; tersentuh melihat kebaikan dan dedikasi Diku-Tama; bergosip ria dengan Dwinta-Iman

• Mempunyai teman-teman hebat di kelompok sampe bisa terpilih menjadi 1 dari 25 Duta Community Development BEM UI gara-gara media campaign yang niat mampus

• MALU PARAH gara-gara masuk MBRC (perpus super mewah punya FISIP) justru LEWAT PINTU KELUARNYA dan ditereakin sama bapak-bapak penjaga

• Kehilangan sebuah hape di Asrama UI

• Audisi alat buat ikutan Mabah Bahana Universitas Indonesia (marching band UI), dan berharap bisa dapet posisi pit

• Makan pecel ayam di toko pinggir jalan sendirian dengan was-was ditodong orang gara-gara yang biasa nemenin lagi ngeksis ke Okinawa selama 1 minggu penuh

• Masak air panas tiap pagi buat bikin kopi guna perang ngelawan rasa kantuk pas OKK, plus mandi air dingin tiap malem

• Semakin jadi “Cinta Laura” berhubung dipertemukan dengan teman-teman dari spesies yang sama di jurusan Hubungan Internasional

• Tersentuh dengan ending yang luar biasa menyentuh ketika temen-temen seangkatan cowok “merebut” bendera makara orange dari langit-langit auditorium FISIP dan yang putri mendukung dengan menggaungkan Mars FISIP bersama-sama

• Akhirnya terpilih menjadi Ketua Kelas

Wow. That’s pretty damn much to spend in a single month! Bulan Agustus 2009 mungkin akan saya catat sebagai bulan ter-bersejarah. The most exhausting one, indeed.

Ngantuk -_____-

Published in:  on August 26, 2009 at 20:48 Comments (9)

kenapa harus dewasa kalau jadi anak-anak menyenangkan

Itu pertanyaan yang belakangan menganggu saya.

Kadang-kadang, perasaan suka mempengaruhi logika dan membuat otak jadi manja. Ngebuat pertanyaan-pertanyaan tak produktif berproduksi.

Kenapa harus pisah dari Mangsa dan anak-anak isinya?
Kenapa harus lulus SMA?
Kenapa harus kerja?
Kenapa harus kuliah?

Nyokap gue pernah bilang kalo Reynald Khasali pernah bilang:

“Anda tahu bedanya orang muda dan orang tua? Catat ini baik-baik, orang muda selalu melihat ke depan, sementara orang tua senang berlama-lama berkubang dengan masa lalu mereka yang menyenangkan.”

Selama ini saya, jujur, merasa muda.

Setiap ada kesempatan mencoba hal baru, ambil! Kenalan sama banyak orang! Cari ilmu dari buku-buku! Pokoknya ngegas dengan kecepatan penuh supaya bisa maju dan nggak jalan di tempat.

Eh…

Hari ini tiba-tiba kecepatan saya menurun. Injakan pada gas sudah mulai dikendurkan, dan sebentar lagi mungkin saya bahkan akan menginjak rem, lalu mundur perlahan…

Mundur ke tempat temen-temen SMA gue masih ada, ke kelas dimana kita selalu bareng-bareng tiap hari sampe hampir 3 taun, mundur ke masa-masa kita bisa tereak-tereak di ruang etud -_____-

Kangeeeeen! Sial.

Published in:  on August 2, 2009 at 23:04 Comments (21)

lagu peleleh

Maksud saya itu “lagu yang-membuat-meleleh”, supaya asik jadi mengalami pemotongan, disingkat “lagu peleleh”.

Ngobrol soal lagu, ada 2 lagu peleleh super mantep yang bakal selalu menempati posisi atas top list lagu favorit saya, yang satu judulnya A Beautiful Mess dan lainnya If It Kills Me, both belong to a genius lyrics writer and unbelievably fine singer favorit saya dari jaman Firaun masih ngojek sampe punya kapal pribadi, Jason Mraz :D

Secara umum, nggak ada lagu Mr. A-Z yang gue nggak suka (Live High, I’m Yours, The Dynamo Of Volition, Only Human, Lucky, semua!), tapi kedua lagu ini terpaksa harus mengalahkan lagu-lagu lainnya karena punya arti tersendiri buat sayah.

A Beautiful Mess, terutama. Terserah mau pada ngelemparin gue pake kertas atau sampah berapa ton, to me it feels like the song was especially written for this fragile Andhyta. Dari kalimat pertama sampe paling akhir.

Kalo calon suami—yang sekarang bayangannya aja masih vague—saya nanti ngelamar sambil nyanyiin lagu ini pake gitar, saya pasti langsung meleleh dan nggak tau harus ngapain -____-
Ya doain aja si one-of-a-kind guy gue itu punya cukup uang buat beli gitar plus bisa bahasa Inggris, supaya lagunya nggak malah jadi ancur. Hahaa.

Sayang liriknya kepanjangan, tanya sendiri sama Om Google aja ya.

Nah, kalo If It Kills Me ini ngingetin gue sama seorang teman lama… Bisa dibilang cinta monyet dan cinta pertama saya waktu masih keciiil banget, sahabat cowok saya, yang dengan polos dan GRnya saya kira suatu saat bakal nyanyiin lagu semacam ini (waktu itu belum ada Jason) buat saya :P

“If It Kills Me”

Hello, tell me you know
Yeah, you figured me out
Something gave it away

It would be such a beautiful moment
To see the look on your face
To know that
I know that you know now

And baby that’s a case of my wishful thinking
You know nothing

Well you and I
Why, we go carrying on for hours on end
We get along much better
Than you and your boyfriend

Well all I really wanna do is love you
A kind much closer than friends use
But I still can’t say it after all we’ve been through

And all I really want from you is to feel me
As the feeling inside keeps building
And I will find a way to you if it kills me

If it kills me

How long, can I go on like this,
Wishing to kiss you,
Before I rightly explode?

This double life I lead isn’t healthy for me
In fact it makes me nervous
If I get caught I could be risking it all

Cause maybe there’s a lot that I miss
In case I’m wrong

If I should be so bold
I’d ask you to hold my heart in your hand
I’d tell you from the start how I’ve longed to be your man

But I never said I would
I guess I’m gonna miss my chance again

I think it might kill me
It might kill me…

Published in:  on at 18:51 Comments (6)

jimat-nya 2009

No hard feeling, but I don’t give a shit believing in any kind of charm or magic casts.

Buat saya, jimat atau mantra-mantra itu terdengar seperti hal yang amat, sangat, kalau bukan amat-sangat, primitif dan katrok. Dangkal dan nggak punya arah yang jelas. Udah punya Tuhan, udah dikasih alat komunikasi berupa shalat dan doa, ngapain juga masih kabur ke dukun?

Well, animisme dan dinamisme memang pernah berakar di tanah Indonesia yang diverse abis ini. Tapi itu dulu, berabad-abad yang lalu, jauh sebelum agama-agama modern seperti Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen masuk ke negri tercinta.

Harusnya di tahun 2009 ini udah nggak ada orang yang percaya sama “benda-benda dengan kekuatan khusus” kan?

Nah, sayangnya, sekarang malah SAYA SENDIRI yang entah-mengapa-jadi-terbawa untuk percaya bahwa there exist things that posess a “special power”. Wadaw.

Biar saya terangkan;

Di kantor, Bos emang minjemin sebuah laptop buat ngerjain presentasi and stuff. Okay, saya memang cepat beradaptasi, laptop tersebut pun dalam waktu singkat mulai akrab dan bersahabat dengan saya. Saya bisa saja menyiapkan power point, menghitung dengan excell,mengetik di word,saya bisa melakukan apa pun. Saya biasa berangkat ke kantor dengan flash disk, ngerjain di meja pojokan, dan kembali pulang dengan sebuah flash disk di tangan.

Eh, kebeneran kemarin badan saya terasa berat buat diajak kompromi naik kereta ke Jakarta. Akhirnya gue hubungin Kak Ayun dan janji kalo gue bakal handle semuanya dari rumah. Brochure dan presentasi klien beres, itu bayaran yang gue janjikan buat bolos :P

Maka, setelah agak lama dianggurin, saya kembali pacaran sama Vaio putih-ku yang super pewe. Itu keadaannya menuju tengah malem, jam 10.30an; gara-gara paginya gue harus ke kantor pos dan ngurus beberapa hal.

MENDADAK, gue merasa otak gue beberapa hari belakangan ini mandet mencair jadi enceeer! Ajaib! Dalam sekejab si presentasi selesai (rada lebay, tapi oh well). Survey sepihak dan naluri saya mengangguk bahwa ini semua emang gara-gara laptop! Beda laptop beda daya pikir! Si “Macbook-wanna be” (bodo ah mau dijulukin apa kek) gue ini emang penuh inspirasi dan canggih!

Nah, itu sekarang saya bingung.
Kok bisa?
Apa ada penjelasan ilmiah dari ini semua?

Laptop yang di kantor itu bukannya nggak pewe loh. Gue bisa-bisa aja mengetik dengan kecepatan tinggi. Tapi ya itu, otak tetep mandet. Beda kalo pake si Sherly (nama notebook gue yang diambil dari kata “Sherlock”).

Kalo dipikir-pikir, si Sherly udah nemenin gue sekitar 1.5 taun.

Waktu gue ke Texas, ngerjain abstract dan makalah projek bareng Sherly.
Waktu gue ke Turki, di kamar hotel sendirian nggak masalah, bisa online bareng Sherly.
Waktu deadline MVP mendekat, begadang bareng Sherly.
Waktu Pak Mustof lagi kejam ngasih PR ngarang setumpuk, selalu ada ilham baru dari Sherly.
Waktu mau apply ke APU, ngompose essay bareng Sherly.
Terakhir, Facade yearbook nggak bakal beres kalo nggak ada Sherly!

Buseh, nggak kebayang kalo si Sherly ini ikut meledak menyusul pendahulunya (laptop biru bekas nyokap yang belum sempet gue kasih nama). Bisa nangis TUJUH HARI TUJUH MALEM kali gue. I’m dead serious! Takada yang bisa menggantikan laptop putih-ku tersayang :((

Nah balik lagi ke judul, mungkin barang-barang ajaib kayak gini bisa dibilang jimat-nya 2009, yang karena sudah sering bergaul dengan majikannya jadi ngasih “kekuatan” tersendiri, yang lama-kelamaan “menyerap” sebagian soul pemiliknya, yang kalo dia tiba-tiba rusak atau ngeror bikin pemiliknya kehilangan setengah jiwa, bener nggak sih?

*saya tahu saya lebay*

Published in:  on August 1, 2009 at 22:50 Comments (7)